Minggu, 21 Juni 2015

Bagaimana Menentukan Masuknya Bulan Romadhon?

Fiqih Romadhon (Bag. 1) Bagaimana menentukan masuknya bulan Romadhon ?

Mayoritas ulama menganggap hanya dengan rukyat saja, jika tidak terlihat ketika tanggal 29 Sya’ban dengan sebab langit yang mendung, atau sedang ada badai pasir, maka keesokan harinya adalah hari ke 30 Sya’ban, meski ahli falak mengatakan bahwa hilal mungkin terlihat. Dalil mereka adalah :

وعن أبي هريرة : أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، قَالَ: (( صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأفْطِرُوا لِرُؤيَتِهِ فَإنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْم ، فَأكمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ )) متفقٌ عَلَيْهِ
Berpuasalah kalian dengan melihat rukyat, dan berbukalah (maksudnya adalah idul fitri-pen) dengan melihat rukyat, jika tertutup oleh kalian (karena awan) maka sempurnakanlah hitungan sya’ban menjadi 30 hari (HR Muslim) .

Bagaimana Jika Sebagian Negara Terlihat dan Sebagian Lainnya Tidak Terlihat?
Masalah ini sudah menjadi hal yang terdengar setiap tahunnya. Jika di Timur Tengah terlihat, apakah melazimkan semua negeri yang terdengar kabar ini wajib berpuasa meski di negrinya telah lewat waktu maghrib dan belum terlihat? Apakah setelah matahari terbenam kita tetap menunggu 4 jam kemudian untuk mendapat kabar apakah di Timur Tengah terlihat hilal itu atau tidak?

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat :

Yang pertama : bahwa jika terlihat hilal di sebuah tempat, maka wajib bagi kaum muslimin semuanya untuk berpuasa. Pendapat ini menyatakan bahwa perbedaan tempat dan waktu terbit bulan itu tidak mempengaruhi. Dan ini adalah pendapat jumhur ahli fiqh dari madzhab hanafi, maliki, hanbali, sebagian syafiiah, dan pendapat imam asyyaukani dan ini dirojihkan oleh dr. Wahbah Zuhaili  dan dikuatkan pula oleh syekh Albani bahkan beliau menukil pendapat yang sejalan dari ibnu Taimiyyah   dan dikuatkan oleh syekh Ahmad Syakir. Dan pendapat inilah yang diputuskan oleh  majelis perkumpulan fiqih islami internasional (di muktamar ke 3 yang diadakan di Amman ibukota Yordan tanggal 8-13 Shofar 1407 / 11-16 Oktober 1986).

Yang kedua : bahwa setiap negara berpuasa berdasarkan rukyat penduduk negara setempat. Pendapat ini menganggap setiap negara yang memiliki pemimpin sendiri, ia mengikuti hasil rukyat negara tersebut, meski negara tetangga memiliki hasil rukyat yang berbeda. Ini adalah pendapat Ishaq bin Rohaweih, Salim, AlQosim, dan Ikrimah.

Yang ketiga : bahwa jika terlihat hilal di suatu negara, maka wajib berpuasa bagi penduduk negara itu dan negara-negara sekitar yang waktunya tidak berbeda teralu jauh. Ini adalah pendapat yang dianggap oleh Mazhab Syafii, dan pendapat sebagian Mazhab Abu Hanifah dan dirojihkan oleh Ibnu Taimiyyah dan dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin dan yang lainnya.

Kami menyebutkan pendapat-pendapat ulama ini supaya masyarakat mengetahui, bahwa di dalam hal ini ada perbedaan yang sangat kuat yang sangat sulit untuk disatukan. Di sebagian negara dilarang untuk mengadakan shola ied dua kali, sebagaimana di Indonesia era dahulu. Maka urusan semakin mudah, sebagaimana para ahli fiqih menyatakan bahwa keputusan pemerintah yang sah itu menghilangkan perbedaan pendapat, artinya wajib untuk ikut ke keputusan tersebut.

Jika ada seorang yang berpendapat menyelisihi pendapat yang dilazimkan oleh pemerintah, maka ia tidak boleh mengumumkan memulai puasa sebelum atau sesudah hari yang ditentukan pemerintah tersebut. Dan juga tidak boleh mendirikan sholat ied sendiri. Maka ia harus memulai puasa secara diam-diam, dan mengakhiri juga dengan diam-diam. Dan tidak mengapa bagi dia untuk sholat ied di hari kedua bulan Syawal supaya tidak terjadi fitnah.

Adapun di negara yang cenderung bebas (seperti Indonesia) maka sebaiknya tetap berusaha untuk menjadikan hari raya itu satu hari, demi menjaga barisan kaum muslimin. Namun jika tidak mampu dan tidak bisa, maka pengikut setiap pendapat akan menjalankan sholat ied sesuai dengan pendapat yang dia yakini lebih kuat. Dan tidak perlu adanya cemooh dan perilaku keras terhadap pengikut pendapat yang menyelisihinya.

(Ust. Faiz Baraja, Al Hafizh)

copaste by www.AinuRofik.com by Kajian Serambi Ma’rifat

Untuk pendaftaran silahkan ketik:
BC(spasi)NAMA(spasi)ALAMAT
Kirim ke:
082 1991 616 47 (Whatsapp)

Untuk Infaq Pengembangan dakwah silahkan hubungi
08564 757 3338 (Whatsapp)

Nb: Bagi yg sudah mendapat kiriman kajian dari 2 nomer di atas untuk tidak mendaftar lagi.

Sebarkan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar